Iwan Darmawansyah

Pengelola Kampus Beasiswa Kampus Wirausaha

Amerika di gusur Siapa yang Untung!

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Maret 9, 2008

Menengok teman lama adalah peristiwa yang membahagiakan. Tanpa disadiri oleh kita, cerita, dan suka duka di masa SMA begitu indah. Jika arah putar jam bisa dikembalikan, maka ingin rasanya kembali di masa itu. Terdengar cerita lucu, ketika teman-teman sekolah kompak mengunci kelas Guru yang datang terlambat dari dalam kelas. Mereka seakan-akan sibuk belajar sampai-sampai bunyi handel pintu tanda seseorang akan masuk tidak didengar oleh mereka. Padahal hati mereka geli bercampur takut menerima hukuman. Cerita selanjutnya, seperti biasa guru adalah penguasa, mereka sekelas dihukum dan guru tersebut tidak mau melanjutkan mengajar di kelas tersebut.

Sekelumit cerita diatas ketika saya mengantarkan isteri ke teman SMA nya di sebuah kota di Jawa Timur. Kabarnya temannya tersebut akan berangkat tugas sebagai diplomat di negara Paman Sam di bulan Juli. Teman tersebut sebut saja Mr X. Sepintas pada kali pertama bertemu di lapangan tenis Unair -Surabaya sekitar tahun 1993-an, nampak kehangatan dan keceriaan sebagai tanda sosok yang memiliki percaya diri penuh. Tidak aneh kalau Ia adalah seorang mantan ketua kelas.

Pada akhir Juni lalu, ketika berkunjung ke rumah teman. Kami mendengar pembicaraan tentang kabar penggusaran salah satu kota di Amerika. Aku kaget bercampur penasaran, sedikit komentar dalam hati, “apa iya Amerika nggak jauh beda dengan Indonesia”.

Ditulis dalam Gagasanku | Tidak ada komentar »

Perbedaan bukanlah masalah

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Maret 9, 2008

Kedengaran lucu tapi kalau dipikir malu juga. Seorang tokoh Agama Ormas Besar menyebutkan bahwa masalah bangsa kita cuma ngintip bulan saja tidak akur, sedangkan bangsa lain jauh sebelumnya sudah pergi ke bulan.

Untuk sekian kalinya, perbedaan penentuan 1 syawal terjadi kembali. Idealnya ingin merayakan nya bersama-sama. tetapi apa daya tangan tak sampai dua ormas besar Muhamaddiah dan NU. Pemerintah sudah berusahan menyatukan dua pendapat tetapi hasil akhirnya tetap berbeda.

Keinginan tinggal harapan, kenyataanya berbeda itu tidak perlu dipersoalkan dan ditarik menjadi persoalan negara. Berbeda itu indah. Dalam dunia usahapun demikian perbedaan harga, kualitas dan kemasan adalah hal yang biasa.

Dalam dunia bisnis perbedaan persepsi justru memperkaya industri itu sendiri. Persepsi adalah respon atas suatu fenomena yang dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan pribadi masing-masing. Keinginan yang bervariasi dari konsumen mendorong industriawan untuk selalu inovatif dan kreativitif agar produk dan jasanya tetap di minati pelanggan.

Ditulis dalam Gagasanku | 1 Komentar »

Belum ada judul

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Maret 8, 2008

Anak negeri kini menjerit. Hasil bumi tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Aneh tapi nyata itulah nasib negeri yang bernama Indonesia. Negeri yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tanah nan subur tak dapat mengemburkan kesulitan hidup.

Indeks Pembangunan jauh lebih rendah dari bangsa lain yang nota bene bukan negeri kaya. Pengalaman jepang setelah dijatuhkan bom hirosima dan nagasaki apakah memang harus mengawali kebangkitan bangsa.

Kabar terbaru USA memprotes Indonesia mengapa memutuskan kerjasama dengan Exon di NATUNA.

Ditulis dalam Berita Hangat | Tidak ada komentar »

Hasil SPMB 2: Kuliah atau bekerja ?

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Agustus 1, 2007

Pengumuman SPMB sebentar lagi. Banyak harapan yang bergantung atas pengumuman yang memang mereka nantikan. Di tahun 1988 sampai 1990-an SPP kuliah di PTN hanya 120 ribu per semester dan jauh lebih murah daripada zaman sekarang yang berkisar jutaan, belasan juta bahkan ada yang ratusan juta. Salah satu penyebabnya adalah perubahan bentuk PTN menjadi BHMN.

Selembar Kertas “SAKTI”

Dalam konteks lain dalam situasi akhir sebagai hasil proses sistem pendidikan nasional bahwa ternyata bekerja adalah pilihan terbanyak dari para lulusan SLTA sekarang. Padahal formasi pekerjaan yang bermodal kan hanya selembar kertas “ijazah” SLTA jumlahnya jauh lebih sedikit daripada pesertanya. Hal ini terjadi karena para lulusan sarjana banting harga “degradasi” mau berlomba-lomba bersaing dengan yuniornya, anak-anak lulusan SMA.

Banyaknya lulusan sarjana menjadi pengangguran merupakan tamparan bagi stakeholder  sistem pendidikan itu sendiri, terutama pemerintah dan pengelola perguruan tinggi serta masyarakat kaya. Mereka perlu melakukan terobosan baru yang inovatif dan tepat sasaran. Dengan demikian penyelenggaraan pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan pasar tenaga kerja dan dunia usaha.

Mencoba Realistis

Kekuatan minat mereka untuk kuliah sesungguhnya cukup besar, tetapi mereka mencoba realistis. Kuliah dizaman sekarang mahal dan tidak terjangkau. Ditambah lagi dengan informasi bahwa para seniornya banyak yang menganggur. Seolah-olah SPMB menjadi pilihan pertama, utama, dan sekaligus terakhir mengingat biaya kuliah di PTS mahal dan tidak terjangkau. Jika ditanya bagaimana jika mereka tidak lulus SPMB? mereka menjawab pilihan selanjutnya tinggal satu, yaitu bagaimana saya dapat bekerja.

Sepintas keputusan bekerja adalah realistis. Tetapi terasa masih banyak ganjalannya, apalagi jika pola pikir ini berakar. Dengan hanya bermodal selembar kertas sakti , maka hakekatnya anak-anak negeri lebih memilih menjadi buruh daripada menjadi tuannya. Idealnya seharusnya mereka menjadi tuan dinegerinya sendiri !

Bagaimana nasib anak bangsa esok hari jikalau situasi ini tidak berubah ? Relakah kita, jika anak negeri sekedar menjadi buruh atas majikan “kapitalis” asing di negerinya sendiri?

Pejuangan perlu pengorbanan

Hidup adalah perjuangan. Pejuangan tak ada tanpa pengorbanan. Bagaimana solusinya? Apa yang harus kita lakukan?

Ditulis dalam Pendidikan | 7 Komentar »

Jadilah diri sendiri

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juli 22, 2007

Berbagai peristiwa lomba digandrungi anak negeri. Mulai dari tingkat RT sampat tingkat Olympiade “Internasional”. Mulai dari panjat pinang sampai dengan Super Rezeki. Para orang tua, guru dan pemimpin bangsa memiliki harapan yang besar agar anak-anak negeri tampil menjadi pemenang berbagai lomba. Tak mau ketinggalan para industri pertelevisian mengadakan lomba-lomba berhadiah, seperti : who want to be millionere, deal or no deal, Super Rezeki 1 MILYAR, Super deal 2 MILYAR dan SuperMilyarder 3 MILYAR.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Gagasanku | 8 Komentar »

Indonesia vs Korsel : Hidup mati

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juli 18, 2007

Pertandingan sepak bola Piala Asia 2007 semakin mendebarkan. Hari ini adalah pertandingan terakhir dan sangat menentukan bagi Indonesia maupun korsel. Peluang diatas kertas Indonesia lebih baik daripada Korsel dengan peringkat 2 klasemen grup sementara. Tetapi dari track rekord prestasi Korsel bikin dengkul gemetar pemain kesebelasan lawan manapun. Sebagai pelanggan setia Piala Dunia sudah barang tentu menjadi modal dasar untuk tampil meraih kemenangan. Kemampuan skill individu yang tinggi dan tim work yang solid menjadikan mereka pantas untuk memandang sebelah mata Tim manapun, termasuk Indonesia.

Dunia sepakbola menyebutkan bola adalah bundar, artinya hasil akhir pertandingan sesungguhnya sangat sulit diprediksikan. Siapa sangka Bahrain dapat mempecundangi Korsel. Tetapi itulah sepakbola.

Olah raga rakyat yang merakyat ditoton jutaan rakyat dan rakyat butuh hiburan, buka sekedar kemenangan semata. Sejatinya kharater asli bangsa seperti yang sudah dipertontonkan oleh Timnas di pertandingan Indonesia vs Arab Saudi. Walaupun kalah 1-2 tetapi pemain Indonesia pulang dengan kepala tegak dan terhormat. Pejuangan pemain dilapangan ternyata dapat membangkitkan kedewasaan penonton fanatik diluar lapangan stadion Gelora Bung Karno. Pertandingan kualitas tersebut tidak dinodai oleh amukan penonton.

Semua ini semakin meyakinkan kita semua memang Indonesia pantas menjadi Negara besar dan patut di perhitungkan dikancah internasional. Sejarah menorehkan catatan bahwa Republik Indonesia adalah bangsa penjuang, kemerdekaan tidak diberikan tetapi direbut dari tangan penjajah.

Semangat pejuang kemerdekaan mudah-mudahan dapat menyuntik spirit Timnas nanti malam. Jangan keder dengan nama besar Korsel. Mudah-mudahan perjuangan  kesebelasan Indonesia di ridhoi oleh Allah Tuhan YME.

Ayo Sepak Bola Indonesia Bangkit!

Ditulis dalam Opini | 5 Komentar »

KIAT SUKSES MEMULAI BISNIS DENGAN MODAL DENGKUL

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juli 15, 2007

 

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juli 15th, 2007

Mencari pekerjaan sulit di zaman ini. Jumlah angkatan kerja tidak sesuai dengan ketersediaan formasi pekerjaan. Angka pengangguran meningkat setiap tahun. Data tentang pengangguran terbuka dari tahun 1996 ke 2000 meningkat, yaitu sebesar 4,228,115 orang (4,9%) tahun 1996 menjadi 5,965,795 orang (6,1%) pada tahun 2000. (Pengukuran pengangguran terbuka dalam sakernas, laporan # 35 paper statistik # 7, uzair suhaimi, yahya jammal, 2001)

Usaha sektor non formal menjadi pilihan mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan. Ironinya, kesempatan mendirikian usaha kecil tidak menarik bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan relatif tinggi.

Kompetensi Saja Sudah Cukup?

Idealnya lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan melakukan analitis, yaitu merubah persoalan yang rumit menjadi sederhana. Kemampuan analitis dapat digunakan untuk mengungkapkan kemungkinan resiko dan peluang pendirian sebuah usaha.

Sayangnya kebanyakan lulusan perguruan tinggi lebih menonjolkan aspek munculnya dampak negatif daripada peluang bisnis itu sendiri. Sehingga mereka tidak memiliki keberanian untuk memulai usaha.

Bagaimana mungkin cukup bagi penyelenggara program studi hanya dengan mengandalkan mata kuliah kewirausahaan (2 sks) untuk dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknologi dan spirit kewirausahaan (technopreneurship). Apalagi sistem perkuliahaan kewirausahaan lebih banyak di ruang kelas.

Modal Usaha sebagai Penghambat?

Selanjutnya aspek permodalan adalah salah satu faktor penghambat lahirnya wirausahawan muda. Modal dianggap segala-galanya. Perhitungan investasi, operasional, dan tingkat pengembalian modal menjadi begitu rumit dan menakutkan. Sehingga mereka lebih memilih sebagai sosok pencari kerja daripada membuka usaha dan lapangan kerja.

Modal usaha penting tetapi bukan dijadikan alasan untuk tidak memulai usaha. Modal merupakan sumberdaya kekayaan perusahaan. Pemodal berarti pemilik modal. Sedangkan Modal tidak selalu dalam wujud uang. Sehingga Pemodal adalah pemilik sumberdaya yang bukan selalu uang.

Keberanian = Faktor Kunci

Jadi bagi seseorang yang tak memiliki uang terbuka peluang untuk menjadi pemilik usaha “bussines owner”. Pernyataan banyak orang bahwa modal non uang adalah modal dengkul. Dengan bermodalkan dengkul kaki sendiri, seseorang dapat menahan beban dan berjalan serta beraktivitas usaha. Artinya tanpa diawali modal uang sebuah usaha dapat berdiri dan berjalan serta tumbuh dan berkembang membawa harapan pemiliknya.

Kalau seseorang tidak memiliki dengkul sendiri, gunakan dengkul orang lain. Orang lain tidak akan pernah marah sepanjang ada konpensasi yang menarik dan fleksibel. Membangun kemitraan permodalan merupakan kombinasi yang rasional dan menjadi kekuatan lebih besar daripada modal dengan dengkul sendiri.

Keberanian mengambil resiko adalah syarat utama untuk menjadi pebisnis. Keberanian memulai usaha dengan modal dengkul menandakan kapasitas, kekuatan dan daya saing pebisnis itu sendiri. Semua orang memiliki potensi menjadi pebisnis modal dengkul. Perbedaan menyolok satu dengan yang lain adalah keberanian bertindak.

Sikap berani bertindak mampu mengeliminir hambatan terbesar merintis bisnis, yaitu permodalan. Hambatan ketidaktersediaan modal hendaknya jangan dijadikan alasan untuk tidak memulai, tetapi sebaiknya memicu lahirnya kreatifitas dan gagasan yang gemilang.

Setiap gagasan atau ide yang lahir dari rahim seorang tak ber-uang memiliki daya tahan untuk bertahan dan berpotensi tumbuh berkembang. Beranikah anda menjadi Pebisnis modal dengkul?

Ayo Indonesia Bangkitlah !

 

Ditulis dalam kewirausahaan | 15 Komentar »

Bab 11 : Penutup

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juli 14, 2007

Setiap manusia, siapapun ia! Apakah anak-anak, pelajar, mahasiswa, karyawan atau profesi lainnya sejatinya terkait dengan aktifitas pertukaran bahkan tidak menutup kemungkinan terkait dengan aktivitas penjualan.

 

Bagi seorang anak, konsep penjualan dipraktekkan dengan cara bagaimana menarik perhatian Ayah dan Ibunya untuk mendapatkan mainan. Sedangkan bagi seorang karyawan, yaitu bagaimana cara menukarkan ketrampilannya dengan gaji kepada majikannya. Bagi Seorang mahasiswa, yaitu bagaimana cara menukar ketekunan belajar dengan Indeks prestasi.

Apalagi bagi seorang penjual. Kesuksesan seorang penjual menentukan hidup matinya perusahaan. Hasil penjualan mendukung keberhasilan pamasaran sebuah perusahaan. Pemasaran adalah ujung tombak perusahaan.

Produk yang inovatif, harga yang murah dan didukung jaringan distribusi yang luas, dalam kenyataanya tidak cukup menjamin produk bisa dijual.

 

Selanjutnya diperlukan dukungan penjualan melalui media iklan, kehumasan, promosi penjualan dan yang tidak kalah penting adalah dukungan Tim penjualan personal.

Buku ini telah menguraikan 9 (Sembilan) kiat bagaimana melakukan penjualan sukses. Dengan demikian diharapkan buku ini dapat menjadi pedoman bagi siapapun terutama bagi seorang penjual. Ke sembilan kiat tersebut adalah (1) Saya seorang penjual, (2) Sayalah Tahu lebih Banyak, (3) Saya kira Ia Pembelinya, (4) Saya yakin ini Pembelinya, (5) Saya ingin bertemu dengannya, (6) Saya presentasikan Apa yang Ia mau, (7) Saya selalu lengkapi kebutuhannya, ( 8) Saya sedang bergembira, (9) Saya selalu dihatimu.

Selanjutnya masing-masing kiat dilengkapi dengan 9 Tip, jadi keseluruhan memuat 81 Tip yang bisa dijadikan rujukan pembaca.

Konsep dapat dijadikan pedoman dan rujukan agar pelaksanaan dapat berjalan dengan lancar, tetapi yang perlu diingat, bahwa apa yang dinyatakan dikonsep tidak selalu sama dengan kenyataanya. Hal ini disebabkan asumsi-asumsi atas konsep di dunia usaha sulit dipenuhi dengan sempurna.

Walaupun demikian penjualan dengan konsep lebih baik daripada penjualan tanpa konsep. Aksi penjualan yang berpedoman pada konsep lebih baik daripada beraksi dengan jurus coba-coba “trial error” (coba sana-coba sini)

Bagi siapa yang meyakini bahwa hasil merupakan hak dari Allah Yang Maha Kuasa. Kewajiban PENJUAL adalah berkerja sebaik dan semaksimal mungkin serta tidak lupa berdoa.

Bagi penjual sukses, usaha dan Doa adalah suatu keharusan. Untuk mencapai sebuah kesuksesan penjual harus berupaya keras untuk dapat meraih daun pintu-pintu dan memohon kepada pemilik sejati kesuksesan untuk dapat membuka pintu kesuksesan bagi Anda.

Mudah-mudahan coretan kecil ini dapat memberikan warna buat kemajuan dunia bisnis khususnya bidang penjualan dan pemasaran.

Tidak ada gading yang tak retak, penulis mengharapkan sumbang saran pembaca demi penyempurnaan dimasa mendatang kami.

Salam dan sukses selalu.

 

Ditulis dalam Buku : Kiat Penjualan sukses | 5 Komentar »

Bab 10 : Kiat Ke 9. Saya Selalu di Hati Pembeli

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juli 14, 2007

Kesinambungan sebuah bisnis, jauh lebih penting daripada keuntungan itu sendiri. Perusahaan mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi hal itu tidak menjamin perusahaan tidak bangkrut dalam jangka waktu menengah (3-5 tahun) dan panjang (5-10 tahun).

Misalkan kapasitas jual sebuah toko ABC adalah 100 unit per hari atau 2.500 unit dengan harga jual per unit Rp 25.000,-, jadi omset per hari Rp 2.500.000,-/per hari atau omset per bulan Rp 62.500.000,-. (25 hari kerja/bln).

Pertanyaannya apakah volume penjualan 100 unit per hari atau 2.500 unit meningkat, tidak berubah, atau justeru menurun. Jawabannya bergantung apakah perusahaan mampu mendapatkan pembeli baru atau mampu menciptakan pelanggan yang loyal.

Saya Selalu dihatimu

Jika produk yang dibeli pelanggan memiliki nilai kepuasan yang lebih besar dari nilai pengharapan pelanggan, maka minimal ketika ada kebutuhan yang sama kecenderungan pelanggan akan membeli produk yang sama dalam jumlah yang sama atau malah lebih banyak seiring dengan peningkatan kebutuhan.

Ungkapan SAYA SELALU DIHATIMU mungkin tepat untuk mengambarkan produk yang tidak sekedar terjual tapi bisa bernilai lebih daripada nilai pengharapan pelanggan.

Kalau yang terjadi sebaliknya, pelanggan kecewa mengkonsumsi produk yang ditawarkan, maka dapat dipastikan keuntungan yang didapat adalah semu. Artinya keuntungan selanjutnya cenderung menurun karena pengguna produk mengurangi permintaan bahkan selanjutnya beralih ke merek yang lain.

Jangan sampai pelanggan “selingkuh” tidak loyal

Dalam manajemen pemasaran, perusahaan tidak boleh hanya fokus pada kepuasan pelanggan saja. Perilaku pesaing dalam industri dapat juga menjadi ancaman. Jika perusahaan lengah, pelanggan yang sebelumnya dianggap loyal bisa saja tergoda dan berubah menjadi pelanggan yang SELINGKUH (tidak loyal…red).

Pelanggan yang loyal dipelihara hingga Ia fanatik terhadap produk dan merek yang ditawarkan. Komunitas pelanggan perlu dibangun melalui program kehumasan (public relation), melalui pameran, event, expo, Kegiatan sosial dan sebagainya.

Sembilan Tip menjawab kiat ke 9

Ada 9 Tip bagaimana produk dan jasa selalu diterima pelanggan dan selalu mendapat tempat dihatinya :

Tip Ke 73 : Saya selalu di hati bukan karena Diatas Kertas.

Kualitas adalah suatu derajat baik buruknya suatu produk. Produk yang berkualitas adalah produk yang diharapkan para pelanggan. Kepuasan akan penggunaan produk bergantung seberapa besar nilai atas produk itu sendiri.

Produk yang bernilai tinggi adalah produk yang berkualitas seperti yang ditulis di katalog secara terus menerus. Sehingga produk yang dijual selalu dapat tempat dihati pelanggan.

Tip Ke 74 : Saya selalu di hati karena Tanggap

Selalu merespon secara positif keluhan pelanggan adalah syrat mutlak bagi penjual sukses. Penjual adalah pemecah masalah atas keluhan pelanggan bukan justru pemukul keluhan. Artinya penjual jangan alergi dengan keluhan bahkan kritikan. Kritikan yang membangun diperlukan dalam rangka penyempurnaan produk.

Keluhan ataupun kritikan adalah informasi yang berharga walaupun pahit. Budaya mendengar perlu dibangun. Ketika Anda mendengar penjelasan calon pembeli, celah-celah jalan menuju pintu “transaksi” kesuksesan semakin terbuka. Anda semakin tahu “keluhan” kebutuhan dan keinginannya.

Tip Ke 75 : Saya selalu di hati karena Solusi bukan Ilusi

Seperti kita ketahui bersama bahwa ilusi adalah impian atau angan-angan yang tidak menjadi kenyataan. Mimpi adalah keinginan yang mucul dialam bawah sadar manusia. Keinginan yang kuat dapat merangsang alam bawah sadar untuk memvisualisasikan apa yang menjadi harapannya.

Manusia yang memiliki keinginan yang kuat tidak tepat kalau disebut pemimpi. Karena mimpinya akan diwujudkan dengan kerja keras. Sedangkan pemimpi sendiri hanya dapat menghitung bintang dilangit tanpa mampu mewujudkan impiannya tersebut.

Bagi seorang penjual keinginan yang kuat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan dapat merangsang alam sadarnya dan merefleksikannya kedalam upaya-upaya yang selalu beorientasi sayalah “problem solver” bukan sekesar ilusi “pepesan kosong”.

Tip Ke 76 : Saya selalu di hati karena bukan Kemunafikan

Kemunafikan adalah sikap tidak terpuji. Yaitu suatu sikap yang dilandasi dengan hati bersih dan apa adanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan produk.

Kejujuran mungkin barang langka dimasa sekarang. Bagi Anda yang menjunjung tinggi kejujuran jangan kuatir disebut manusia langka.

Penjual sukses adalah manusia pilihan dan langka. Menjadi penjual sukses terbuka buat Anda yang jujur berkata dan bersikap. Hidup tenang dan sehat walafiat serta penghasilan yang meningkat adalah impian yang menjadi kenyataan buat Anda penjual “jujur”.

Kejujuran adalah sikap terpuji dan sekaligus melatih penjual “jujur” untuk sabar bagaimana menghimpun keuntungan yang relatif kecil rupiah demi rupiah tetapi terus meningkat seiring dengan sosok Anda “kejujuran” yang mendapatkan tempat dihati pelanggan.

Tip Ke 77 : Saya selalu di hati Bukan Sekedar Perniagaan

Dengan memberikan pelayanan yang prima, penjual mampu meningkatkan jalinan hubungan dari sekedar hubungan bisnis menjadi hubungan persaudaraan. Sesuai dengan falsafah jawa “Tuno satak bathi Sanak” yang sudah dibahas dibagian terdahulu buku ini.

Hal ini diperkuat oleh pakar marketing Kotler yang menyebutkan bahwa “derajat hubungan mulai dari sekedar pembeli sekali (the first-time custumers) pembeli berulang (repeat constomers) pelanggan (clients) penganjur/penyokong (advocates) mitra (partner).

Kemitraan adalah hubungan persaudaraan. Mitra setia akan merasakan keprihatinan ketika perusahaan mengalami kerugian. Sebaliknya mitra setia merasakan kebahagiaan ketika tahu bahwa perusahaan mengalami kemajuan.

Begitu pula, pejual menjadi prihatin dan tanggap untuk segera mengganti produk yang dijualnya ketika tahu bahwa mitra yang setia mendapatkan paroduk kualitas rendah.

Mekanisme itu akan berjalan terus menerus sepanjang masing-masing pihak menyadari bahwa mementingkan persaudaraan lebih baik daripada mementingkan perniagaan semata-mata.

Tip Ke 78 : Saya selalu di hati bukan untuk laba semata

Motif seseorang untuk membeli suatu produk adalah karena produk tersebut dianggap dapat bermanfaat buat pemakainya. Transaksi terjadi kalau motif tersebut didukung daya beli dari pembeli tersebut.

    Prioritas utama bagi penjual suskes adalah menetapkan penilaian bahwa bobot azas manfaat lebih besar daripada bobot keuntungan. Sehingga setiap produk yang digunakan oleh pelanggan selalu dapat memberikan kepuasan maksimal.

    Orientasi kemanfaatan bukan meniadakan aspek pentingnya keuntungan tetapi justru menjamin kesinambungan perusahaan dimasa mendatang. Keuntungan adalah penting untuk menopang kehidupan perusahaan dan dapat memberikan kontribusi nyata kepada pemegang kepentingan (stake holders).

    Bagaimana mungkin perusahaan dapat membeli bahan baku/barang jadi, membayar upah dan gaji karyawan serta menyelenggarakan operasional perusahaan tanpa mengharapkan keuntungan. Tetapi keuntungan adalah bukan semata-mata, karena banyak hal penting lainnya yang perlu diperhatikan perusahaan seperti : kepuasan pelanggan, kesejahteraan karyawan, kemaslahatan masyarakat, kontribusi pajak, dan sebagainya.

Dengan pnjual lebih berorientasi kepada kemanfaatan produk daripada keuntungan semata-mata, maka hakekatnya penjual memupuk hubungannya dengan pembeli ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu menjadi mitra bukan sekedar pembeli “latahan”.

Tip Ke 79 : Saya selalu di hati karena komplain pelanggan

Kebiasaan buruk banyak penjual adalah lebih merespon, menyapa dan melayani pelanggan baru daripada melayani pembeli lama. Dalam rangka mengupayakan bagaimana menarik pelanggan baru sebanyak-banyaknya, maka waktu dan energi penjual banyak tersita. Sehingga kecil sekali prioritas untuk merespon klaim atau keluhan dari pelanggan lama.

Tanpa disadari semakin-lama sikap seperti itu adalah kontraproduktif. Sehingga semakin banyak pelanggan lama yang kecewa dan beralih ke produk pesaing.

Saya selalu di hati karena mendahulukan komplain Pelanggan Lama daripada bertemu dengan Pelanggan Baru adalah ungkapan guna memastikan pelanggan lama tidak kecewa.

Tip Ke 80 : Saya selalu di hati karena Amanah

Penjual Amanah adalah penjual yang memiliki sikap penuh tanggung jawab. Tanggung jawab penjual terhitung sejak produk itu digulirkan sampai dengan purna jua (after sales service).

Kebanyakan, semangat dan tanggung jawab yang tinggi seorang penjual hanya sampai dengan terwujudnya transaksi penjual. Setelah itu orientasi berpaling kepada calon pembeli baru. Sikap demikian terlalu berorientasi jangka pendek. Dapat dipastikan sikap seperti itu justru menutup pintu-pintu kesuksesan jangka mengengah dan panjang.

Penjual yang selalu dihati pembeli adalah seseorang yang memiliki komitmen tinggi untuk melaksanakan kewajiban secara terus menerus sepanjang penggunaan produk.

Tip Ke 81 : Saya selalu di hati bukan karena Nafsu.

Kehidupan manusia hidup tidak akan pernah lepas dengan sifat nafsu. Kita semua mengenal nafsu sebagai sifat khas binatang. Sehingga jika manusia melakukan perbuatan dengan landasan nafsu sering disebut manusia berprilaku kebinatangan.

Seperti kita ketahui manusia sebagi mahluk yang paling mulia dan yang membedakan dengan Malaikat adalah nafsu. Ternyata manusia memiliki sifat dasar nafsu tetapi memiliki alat kontrol, yaitu akal. Dengan akal untuk berfikir, manusia diharapkan mampu mengendalikan nafsunya untuk kesejahteraan manusia dimuka bumi ini.

Nafsu yang berakal merupakan faktor pendorong manusi dalam meraih kemajuan. Tanpa “nafsu berakal” ambisi seorang manusia sulit untuk meraih cita-cita hidupnya.

Bagi seorang penjual yang berhati nurani akan mampu mengendalikan nafsu dengan fikiran dan hati sehingga pembeli akan mendapatkan produk yang sebenar-benarnya. Pembeli akan mendapatkan produk apa adanya yang sesuai dengan harapannya.

Menjual dengan hati

Seorang Penjual hendaknya menjual dengan HATI NAN TULUS ikhlas dan mampu mengetarkan hati pembeli. Saya “PENJUAL” selalu dihati-Mu “Pelanggan” merupakan ungkapan yang bisa dijadikan pedoman dalam melakukan berbagai aktivitas pemasaran.

Sesuatu yang disampaikan dengan hati akan diterima dengan hati pula. Gambaran hati adalah cerminan kebenaran. Kata hati yang paling dalam adalah kata Tuhan pencipta alam semesta.

Seorang penjual harus memiliki hati yang tulus ikhlas. Dengan kerja keras dan penuh dengan keikhlasan sesuatu yang sulit terasa mudah, yang jauh terasa dekat, yang gelap terlihat terang benderang, yang tidak mungkin terjual, yakinlah Insya Allah produk yang Anda jual akan diterima oleh banyak pembeli.

Mengutip sebagian syair lagunya Aa Gym seorang Ustat dan entrepreneur :

Jagalah Hati jangan kau kotori

Jagalah Hati jangan kau Nodai

Jagalah Hati Lentera hidup ini…

Dari dari syair lagu diatas hati merupakan lentera hidup ini. Agar lentera hidup terang benderang, maka lentera tersebut jangan dikotori atau dinodai.

Dengan kata lain segumpal darah yang namanya hati harus dipelihara sepanjang hidup, hati yang baik menjadikan organ tumbuh menjadi baik, atau sebaliknya hati yang buruk makan buruk pula organ yang lain.

  1. Hati yang baik, maka akal juga berfikir yang baik-baik…

  2. Hati yang baik, maka mata juga melihat yang baik-baik…

  3. Hati yang baik, maka telinga juga mendengar yang baik-baik…

  4. Hati yang baik, maka lidah juga mengucapkan yang baik-baik…

  5. Hati yang baik, maka tangan juga mengerjakan yang baik-baik…

  6. Hati yang baik, maka Kaki juga melangkah yang baik-baik…

Berfikir dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan pertama

Melihat dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Kedua

Mendengar dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Ketiga

Mengucapkan sesuatu dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Keempat

Mengerjakan dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Kelima

Melangkah dengan baik tentang kebutuhan dan keinginan pembeli berarti Anda sudah menempuh satu anak tangga kesuksesan Kelima

 

Ditulis dalam Buku : Kiat Penjualan sukses | 3 Komentar »

Bab 9 : Kiat Ke 8. Saya Sedang Bergembira

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juli 14, 2007

Suasana batin seseorang biasanya mempengaruhi pysikologis dirinya sendiri. Ketika seseorang sedang tertimpa musibah maka Ia sedih dan terpukul jiwanya. Sikap dan keputusan yang dibuatnya cenderung tidak objektif.

Mengambil keputusan dalam suasana sedih, marah, atau stres sangat beresiko.. Karena cenderung diliputi suasana batin yang emosional.

Penjual perlu mewujudkan suasana keceriaan, dengan memperhatikan penampilan lahir batin. Proses penjualan yang ditutup dengan transakasi penjualan merupakan harapan dan sekaligus menjadi suka cita bagi penjual.

Ungkapan bijak menjadi renungan kita

Ketika seseorang sedang mengalami gundah gulana, kesedihan, dan kemarahan disarankan untuk menunda pengambilan sebuah keputusan strategis.

Bagi seorang pelanggan, suasana keceriaan harus selalu dibangun oleh penjual. Penjual yang memiliki jiwa yang ceria cenderung dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan.

 

Proses penjualan mulai dari penetapan pasar sasaran (target market) sampai proses negosiasi dapat dianggap sukses, jika serangkaian proses penjualan ditutup dengan transkasi.

Orientasi proses bukan hasil

Urusan penjual adalah proses seoptimal mungkin bukan hasil, seperti disebutkan dibawah ini:

  1. Produk yang optimal, yaitu produk yang kualitas dan bermanfaat buat penggunanya.

  2. Harga yang optimal, yaitu harga yang lebih murah daripada pesaing

  3. Promosi yang optimal, yaitu keberadaan produk dapat dengan cepat dan tepat dikomunikasikan oleh pembeli

  4. Distribusi yang optimal, yaitu distribusi atas produk yang luas dan lancar yang meliputi sekurang-kurangnya pasar sasaran

Karena hasil merupakan hak dari Allah Yang Maha Kuasa, kewajiban PENJUAL berkerja sebaik dan semaksimal mungkin serta tidak lupa berdoa. Bagi Penjual Sukses, Usaha dan Doa adalah suatu keharusan. Untuk dapat meraih kesuksesan, penjual harus berupaya keras untuk dapat meraih daun-daun pintu dan memohon kepada pemilik sejati kesuksesan agar mau membuka pintu kesuksesan bagi Anda.

Kesuksesan hanya bagi Penjual “pekerja keras-cerdas”, bukan kepada penjual “pemimpi keras”.

Walaupun kepuasan pelanggan tidak dapat diukur begitu saja dengan dengan melihat ekspresi pembeli. Tetapi sekurang-kurangnya fenomena ekspresi seorang pembeli dapat menumbuhkan optimisme bagi bagi penjual untuk terus melakukan peningkatan kinerjanya.

Sembilan Tip menjawab kiat ke 8

Berikut ini ada 9 Tip bagaimana mengukur transaksi kepuasan pelanggan dilihat dari ekspresi kegembiraan pembeli :

Tip Ke 64 : Saya gembira, jika Pembeli Tersenyum.

Ekspresi tersenyum seringkali diinterpretasikan sebagai ungkapan kebahagiaan seseorang. Penjual selalu berusaha melakukan berbagai cara dan upaya “penjualan’ agar dapat manarik perhatian pembeli.

Kejadian “transaksi” yang dapat membuat pembeli tersenyum merupakan pertanda baik. Yaitu keberhasilan mengubah sebuah penawaran menjadi transaksi jual-beli.

Tip Ke 65 : Saya gembira, jika Pembeli Tertawa.

Acara Akademi Pelawak Indonesia (API) di TPI banyak diminati pemirsa. Seiring itu rating acara tersebut meningkat tajam dan ternyata mampu mengembosi acara sejenis yaitu Akademi Fantasi Indonesia.

Gelak tawa canda peserta API mampu mempesona pemirsa. Pelawak yang semula hanya menghadirkan kelucuan fisik sudah bergeser menjadi kelucuan yang dipicu oleh dialog.

Dengan tertawa dapat menurunkan ketegangan saraf akibat stress. Gelak tawa seseorang merupakan ekspresi spontan setelah dipicu oleh sesuatu yang menimbulkan kelucuan.

Dalam konteks penjualan, tertawanya seorang pembeli merupakan pertanda baik. Pembeli tertawa karena merasakan yakin bahwa produk yang dibelinya adalah produk yang luar biasa dan murah harganya.

Tip Ke 66 : Saya gembira, jika pembeli Tersanjung.

Bagaimana pemenuhan kebutuhan pembeli merupakan syarat penting bagaimana mewujudkan transaksi. Salah satu motif seseorang melakukan pembelian adalah sejauhmana produk yang dibeli dapat meningkatkan status sosial.

Peningkatan status seseorang atas penggunaan produk merupakan harapan pembeli. Walaupun untuk mendapatkan produk tersebut memerlukan pengorbanan yang besar.

Dalam aktivitas penjualan, pengorbanan besar “oleh banyak orang” untuk membeli produk yang ditawarkan penjual ternyata lebih kecil daripada nilai “sebuah pujian” orang kepada dirinya.

Seorang yang membeli lukisan di lelang pusat kota, akan “tersanjung” dan bangga jika ia mampu menjadi pemenang lelang dengan harga tertinggi.

Tip Ke 67 : Saya gembira, jika pembeli Terangkat.

Artinya pembeli merasa status sosialnya terangkat ketika menggunakan produk yang dibelinya

Tip Ke 68 : Saya gembira, jika pembeli Termasyur.

Kemasyuran merupakan impian banyak orang. Seseorang merasa terkenal karena memiliki mobil seri terbaru dan edisi terbatas (limited edition). Mobil ini hanya diproduksi 5 unit di dunia, dan salah satunya mobil milik saya, kata seseorang.

Tip Ke 69 : Saya gembira, jika pembeli Terbantu.

Artinya pembeli merasa masalahnya bisa dipecahkan dengan menggunakan produk yang dibelinya. Contoh : Ia membeli payung ketika hujan. Ia membeli dengan penuh kegembiraan karena ia terbebas dari kehujanan.

Terbayang olehnya

Tip Ke 70 : Saya gembira, jika pembeli Terpenuhi.

Kebutuhan pembeli merupakan Pembeli yang harus dipenuhi Artinya pembeli merasa kebutuhannya terpenuhi setelah mengkonsumsi-kan produk yang dibelinya

Tip Ke 71 : Saya gembira, jika pembeli Tepukau.

Artinya pembeli merasa kagum dengan produk yang dibelinya. Contoh : membeli TV mobil

Tip Ke 72 : Saya gembira, jika pembeli Terpuaskan.

Siapapun pembelinya selalu menginginkan kepuasan. Hasrat untuk mengkonsumsi/ menggunakan/mengendarai/memakai merupakan motif seorang pembeli.

Ada berbagai aspek kepuasan bagi seorang pembeli, yaitu : harga murah, kualitas poduk, mudah didapat, dan pelayanan prima.

 

Transaksi bukan akhir aktivitas pemasaran

Hakekatnya Transaksi Penjualan adalah bukan akhir dari proses penjualan itu sendiri, tetapi merupakan awal membangun loyalitas pelanggan.

Pada dasarnya Transaksi Penjualan yang sejati adalah sebuah proses yang mampu membuat nyaman pembeli-penjualnya. Artinya proses penjualan dilaksanakan secara fair, legal, etis dan saling menguntungkan kedua belah pihak baik pembeli maupun penjual.

 

Ditulis dalam Buku : Kiat Penjualan sukses | 4 Komentar »