Iwan Darmawansyah

Pengelola Kampus Beasiswa Kampus Wirausaha

Arsip untuk Juni, 2007

Spiritual Bisnis: Pebisnis “Aji Mumpung”dan Penanganan Bencana Semburan Lumpur “Lapindo” Porong Sidoarjo

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 30, 2007

Peristiwa merupakan fakta yang tak terbantahkan. Setiap peristiwa selalu membawa dua pesan yang bertolak belakang satu dengan yang lain. Peristiwa dapat membuat sebagian atau seluruhnya berbahagia, tetapi sebaliknya dapat membuat duka dan kesedihan.

Tidak rela saudaranya menjadi sengsara

Setiap orang walau seakan tidak perduli dengan peristiwa yang tidak terkait secara langsung dengan kepentingan dirinya. Tetapi sedikit banyak terusik untuk mengomentari atas kejadian berbagai peristiwa. Seperti peristiwa musibah lemburan lumpur “lapindo” Porong Sidoarjo. Pada awalnya sebagian masyarakat Jakarta dan kota lainnya mengetahui berita tersebut dari liputan berita media jurnalistik. Pada mulanya biasa saja, tetapi ketika semburan itu terus menerus keluar dan menggenangi area tanah, sawah, ladang, dan rumah warga, maka mereka menjadi terusik dan heboh. Komentar pedaspun terdengar bersautan di pelosok negeri nun jauh dari Porong. Intinya mereka tidak rela saudaranya menjadi sengsara dan mendesak pertanggungjawaban pihak pengelola perusahaan lapindo. Selanjutnya musibah lokal cepat melebar menjadi isu nasional yang membutuhkan uluran tangan penguasa Nasional.

Peristiwa semburan lumpur yang mengakibatkan sebagian besar masyarakat khususnya pemilik tanah sekitar menjadi kehilangan rumah tempat tinggal, lahan produktif, pabrik dan sebagainya. Kesengsaraan warga ternyata juga membawa nikmat sebagian masyarakat lain, yaitu perusahaan katering, perusahaan konsultan, tenaga ahli asing dan lokal dan sebagainya.

Para Ahli Lokal tak mau ketinggalan

Perguruan tinggipun tidak mau ketinggalan, tim ahli ITB sudah berusaha melalui metoda bola beton. “Metoda bola beton ini bertujuan untuk mengurangi debit semburan lumpur, sehingga memperkecil volume semburan lumpur tersebut”.

Kolega ITB, yaitu ITS pun berusaha untuk turut berpartisipasi, mengutip (antara, 17/05/2007) bahwa ……, presiden telah menerima presentasi metode stop lumpur dari tim Jepang yang dipimpin ahli teknik sipil Takashi Okamura dengan metode “counter weight” (cofferdam) di Jakarta (11/5).

“Itu bukti pemerintah kurang percaya terhadap karya anak bangsa. Karena itu, kami mengirim SMS yang berbunyi `Usulan tim Jepang itu sama dengan solusi tim ITS, kenapa tidak menggunakan tim dari bangsa sendiri`,” ucapnya.

SMS itu, tutur pengusaha di Ngoro Industrial Estate Mojokerto itu, langsung dibalas presiden dengan menyatakan “Kalau saudara punya solusi, silahkan ke tim atau ke bupati, jangan ditunggu-tunggu lagi`.”

Oleh karena itu, katanya, respon presiden untuk menggunakan metode karya anak negeri yang mengacu kepada Hukum Bernoulli (sistem keseimbangan tekanan) itu, akan ditindaklanjuti dengan mengadakan pertemuan dengan tim Jepang.

…….. Selain itu, tim Jepang mematok biaya sekitar Rp600 miliar, sedangkan tim ITS hanya menaksir biaya Rp250 miliar. “Biaya itu, menjadi tanggungjawab Lapindo,” kilahnya.

Keprihatinan dan Peluang Bisnis 

Nampaknya ada dua pihak yang berada pada posisi yang berbeda. Dan keduanya memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan manfaat besar dari peristiwa tersebut. Ketika situasi ini dilemparkan kepada saudara, maka mana yang anda pilih menjadi korban atau menjadi bagian yang menikmati bisnis sebagai upaya penanggulangan bencana? Hampir dapat dipastikan kebanyakan lebih memilih menjadi kontraktor proyek, ketimbang menjadi korban bencana?

Bagaimana dengan Anda seorang “Pebisnis”?

Menarik kerena kalau dikaji lebih mendalam, maka pilihan tersebut belum tentu menjadi sebuah nilai yang tinggi . Karena sesungguhnya yang terjadi adalah menjadi korban tidak selalu lebih buruk daripada menjadi kontraktor “aji pumpung”?

Pebisnis “Aji Mumpung” dalam konteks ini adalah tidak profesional dan berbau KKN. Mereka berpotensi untuk melakukan praktik-praktek yang tidak terpuji dan akan mengundang pihak KPK dan kejaksaan di kemudian hari.

Sebagian besar masyarakat mengharapkan bagaimana pemerintah mampu menghentikan bencana dan menghilangkan penderitaan rakyat melalu program-program nyata dan multidimesi bersama-sama swasta serta menuntut pertanggung jawaban perusahaan pengelolaan Lapindo secara maksimal.

Kantor Presiden Pindah ke Surabaya

Berkenaan dengan pertanggungjawab PT Lapindo Brantas yang terkesan lamban dan berbelit-belit, maka Presiden SBY mengambail langkah-langkah nyata dan pucaknya adalah pada saat memindahkan kantor dari Jakarta ke Surabaya. Sebagian masalah dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari. Sebagian masyarakat sekitar bencana sedikit tersenyum karena telah menerima uang ganti rugi.

Dalam konteks Manajemen Pemerintah, walaupun keputusan RI 1 tersebut politis dan mampu memenuhi sebagian tuntutan masyarakat, tetapi kesan yang muncul bahwa manajemen pemerintah tidak efektif adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri.

Dengan berlandaskan nilai-nilai spiritual diharapkan pula kepada Pebisnis dan manajemen pemerintah pusat dan daerah untuk bekerja secara profesional, akuntabel dan etis, sehingga pembangunan kemasyarakatan atas penanganan bencana dapat berjalan efektif dan efisien.

Ayo Indonesia Bangkit!

Ditulis dalam Religius | 2 Komentar »

Modul Manajemen Pemasaran

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 30, 2007

Ditulis dalam Modul Manajemen Pemasaran | 3 Komentar »

Seri Pendidikan

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 29, 2007

1. Cara Efektif Mengajar Kewirausahaan

2. Kiat Sukses Bagaimana Menerapkan Pendidikan Berbasis e-learning

3. Kiat Sukses Mengembangkan Pendidikan Kewirausahaan Terpadu

Ditulis dalam Buku Pendidikan | 3 Komentar »

Seri Motivasi

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 29, 2007

1. Kiat Bijak Bagaimana mengembangkan etos bisnis Positif.

2. Kiat Sukses Bagaimana Berfikir Positif.

3. Kiat Jitu Bagaimana Menghadapi Kegagalan.

4. Cara Efektif Memotivasi Bawahan

Ditulis dalam Buku motivaSI | 1 Komentar »

Seri Kewirausahaan

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 29, 2007

1. Kiat Sukses Memulai Bisnis dengan Modal Dengkul

2. Kiat Sukses Memilih Jenis Usaha

3. Kiat Sukses Mengembangkan Bisnis Ritel

4. Kiat Bagaimana Mengembangkan Manajemen Waktu Efektif

Ditulis dalam Buku Kewirausahaan | 3 Komentar »

Modul Akuntansi Biaya

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 27, 2007

Bab 1 : Pengantar

Bab 2 : Metode Harga Pokok Pesanan (Job Order Costing)

Bab 3 : Metode Harga Pokok Proses (Process Costing)

Bab 4 : Metode Harga Pokok Proses Lanjutan

Bab 5 : Produk Bersama (Joint Product)

Bab 6 : Akuntansi Bahan (Material Accounting)

Bab 7 : Akuntansi tenaga kerja (Labor Accounting)

Bab 8 : Akuntansi OverheadPabrik (Manufacturing Accounting)

Bab 9 : Implementasi Konsep Mutu

Ditulis dalam Modul Akuntansi Biaya | 41 Komentar »

Modul Pengantar Bisnis

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 24, 2007

BAGIAN 1: ORGANISASI BISNIS

Bab 1 : Perencanaan Perusahaan

Bab 2 : Keputusan Kepemilikan Perusahaan

Bab 3 : Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial

BAGIAN 2: LINGKUNGAN BISNIS

Bab 4 : Lingkungan Ekonomi

Bab 5 : Lingkungan Industri

Bab 6 : Lingkungan Global

BAGIAN 3: MANAJEMEN

Bab 7 : Manajemen

Bab 9 : Manajeman Produksi

Bab 10 : Peningkatan Efisiensi dan mutu Produksi

BAGIAN 4: MENGELOLA KARYAWAN

Bab 11 : Memotivasi Karyawan

Bab 12 : Penarikan, Pelatihan, & Evaluasi Pekerja

BAGIAN 5: MANAJEMEN PEMASARAN

Bab 13 : Strategi Produk dan Harga

Bab 14 : Strategi Distribusi

Bab 15 : Strategi Promosi

BAGIAN 6: MANAJEMEN KEUANGAN

Bab 16 : Analisis Akuntansi dan Keuangan

Bab 17 : Pendanaan

Bab 18 : Investasi Bisnis

BAGIAN 7: TOPIK LAIN

Bab 19 : Sistem Informasi Manajeman

Bab 20 : Manajeman Resiko

Bab 21 : Sintesa Bisnis

Ditulis dalam Modul Pengantar Bisnis | 19 Komentar »

Kuliah Gratis dan Lulus Jadi Wirausahawan : Ayo Daftar kuliah !

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 21, 2007

Ujian akhir nasional (UAN 2007) sudah berakhir. Menyisakan kegembiraan bagi yang lulus, kekecewaan bagi yang tidak lulus atau asal lulus, dan kebingungan setelah kelulusan mau kemana.

Dalam pentas kehidupan kebingungan dan keraguan adalah hal lumrah. “Biasa saja”, Yusril Ihza Mahendra Mantan Mensesneg berkata, ketika menjawab pertanyaan wartawan sehbungan diberhentikannya sebagai menteri. Walaupun hati beliau mungkin berkata lain.

Kata “biasa saja” menurut penulis jangan diartikan sikap menyepelekan persoalan. Tetapi lebih tepat adalah sebagai sikap manusia yang tawakal. Ketika pemberhentian atas sebuah jabatan hendaknya diartikan sebagai takdir ilahi sebagai pertanda kasih sayang pada umatnya.

Sebelum takdir datang, kita semua diwajibkan untuk berusaha keras menjawab berbagai persoalan kehidupan, termasuk saudara-saudara calon mahasiswa. Suasana kegembiraan atas kelulusan segera diakhiri, karena tantangan besar sudah di depan mata. Pilihan yang tersedia tidak selalu sesuai dengan harapan dan ketersedian sumberdaya khususnya kecukupan uang.

Mahasiswa = penumpang kapal layar menuju pelabuhan cita-cita
Sebagai ilustasi, calon mahasiswa adalah penumpang kapal layar menuju pelabuhan cita-cita. Ada pelabuhan dokter, insinyur, ekonom, akuntan, pebisnis dan sebagainya. Pastinya para penumpang ingin sampai ke pelabuhan dengan cepat dan selamat serta ongkos yang murah.

Kapal cepat dan aman adalah kapal bagus, lengkap, teknologi baru dan diawaki yang oleh kru yang handal. Investasi pembangunan dan operasional kapal tersebut pasti mahal. Sehingga bagaimana mungkin ketika kapal diluncurkan hanya dibayar ongkos yang murah. Investor rugi besar.

Begitupula pengelolaan kampus yang kualitas memerlukan dana besar. Seperti untuk membeli tanah, membangun gedung, pengadaan sarana: lab. komputer, lab. bahasa, olah raga dan seni, sistem informasi, fasos dan lain sebagainya. Jadi bagaimana mungkin calon mahasiswa berkantong tipis dapat sampai dengan cepat dan aman ke pelabuhan karier dengan kapal “kampus handal”, yaitu kampus yang mampu mengawal masa depan penumpangnya kepada pelabuhan “cita-cita”.

Kuliah gratis bagi siswa prestasi dan “tidak mampu”
Memang jalur PMDK dan SPMB menjajikan. Sayangnya lebih sedikit kursi daripada peminatnya. Tetapi jangan pesimis dulu kawan. Keinginan dan tekad untuk kuliah jangan kendur karena jika teliti, masih ada jalan menuju roma. Kabarnya kuliah gratis bagi siswa prestasi dan “tidak mampu” tersedia di beberapa kampus dan salah satunya adalah STIE Tunas Nusantara (STIE-TN).

STIETN memiliki “motto: kuliah dengan beasiswa tamat jadi wirausaha”. Tahun 2007/08 sekitar 200 calon mahasiswa ditunggu pendaftarannya pada program kuliah gratis.
Jangan salah paham dulu. Tulisan ini tidak sekedar porno eh maaf salah … yang benar …promo, tapi yang lebih penting adalah informasi yang diterima sebaiknya silakan diuji kebenarannya. Jelasnya di kampus beasiswa-kampus wirausaha yang mengelola program beasiswa/ kuliah gratis sudah diluncurkan sejak tahun 2001 sampai sekarang.

Pendidikan Terpadu = Kuliah + Pelatihan + Pemagangan Bisnis

Uniknya Tahun 2005 dan disempurnakan tahun 2006 yang lewat, STIE-TN meluncurkan program wirausaha kuliah gratis ( anti pengangguran ) bagi yatim piatu / ekonomi lemah / prestasi, dimana program pendidikannya terpadu. Tujuan Program diarahkan agar lulusannya menjadi ” imun / kebal / anti ” pengangguran. Artinya hal tersebut dapat diantisipasi melalui sistem pendidikan terpadu “kuliah-latihan-magang”.

Pendidikan terpadu maksudnya adalah pendidikan yang mengkombinasikan beberapa unsur kegiatan, yaitu Perkuliahan (jam 08.00 – 12.15), Pelatihan bisnis (12 x/th), dan Pemagangan bisnis (3 bulan di semester 2). Selanjutnya para mahasiswa diharapkan sudah memiliki bisnis dan punya penghasilan pada akhir tahun pertama. Dengan demikian tangan tidak berada dibawah lagi, sebaliknya mungkin saja sudah di atas membantu sanak keluarga, bangsa dan negara.

Penutup

Silakan menggali informasi lebih lanjut ke humas . Hubungi : Bapak Agus Telp. 021-68943243 & Mbak Azizah 021-80883639. Ayo daftar kuliah “Gratis” dan lulus jadi Pebisnis. Ayo Indonesia Bangkit.

Ditulis dalam Pengumuman | 43 Komentar »

Hasil UAN 2007 dan Pebisnis

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 16, 2007

Ujian Akhir Nasional adalah isu hangat dewasa ini. Bagi peserta didik, UAN merupakan momok bagi kehidupannya. Para orang tua pun tidak kalah stres dibandingkan anaknya sendiri. Sulit dibayangkan cibiran rekan, tetangga, saudara ketika anaknya dinyatakan tidak lulus UAN.

Menampar kewibawaan Profesi Guru

Manajemen sekolah, guru dan jajarannya merasa seakan-akan dunia akan runtuh, ketika semua anak didiknya dinyatakan gagal lulus UAN. Oleh karenanya kita dengar bersama telah terjadi di berbagai pelosok negeri beberapa manajemen sekolah kompak untuk “mensukseskan UAN” dengan cara yang inovatif padahal sesungguhnya justru  menampar kewibawaan profesi guru. Seperti kasus yang terjadi di Medan, Komunitas Air Mata Guru di Medan, benar-benar menangis dan memprotes semua kebohongan dan kecurangan pelaksanaan Ujian Nasional SMP dan SMA yang justru dilakukan oleh para pendidik. Mereka menyaksikan bagaimana para sejawat membuat kunci jawaban dan memberikan kepada peserta ujian agar mereka lulus ujian nasional.

Guru adalah profesi mulia

Guru hadir ditengah-tengah masyarakat seharusnya bukan untuk membantu menjawab soal UAN bagi anak didiknya demi nama baik sekolah. Sesungguhnya Guru adalah profesi mulia dan berada pada garda terdepan dalam membentuk SDM yang berdaya saing tinggi dan mandiri. Dan Saya yakin, jauh lebih banyak guru-guru yang patut dibanggakan daripada yang bermasalah.

Di kesempatan lain, kita mendengar bahwa para petinggi Depdiknas pun tidak kalah tegangnya dengan DPR selaku wakil rakyat. Ketidak setujuan para wakil rakyat tentang UAN, direspon negatif oleh pemerintah dengan argumentasi pentingnya peningkatan kualitas lulusan bagi peningkatan daya saing bangsa.

Itulah fenomena kehidupan. Makna dari sebuah kata “Ujian”, yang sebenarnya merupakan salah satu faktor keberhasilan dari proses pembelajaran. Kemudian melebar kemana-mana.

Ujian adalah suatu upaya untuk menilai pengetahuan dan kemampuan peserta ujian. Nilai ujian pada nantinya tidak sekedar ukuran kapasitas peserta, tetapi juga sebagai evaluasi proses belajar mengajar.

Menjawab ujian bisnis

Dalam dunia bisnis, ujian adalah sebuah tantangan yang dapat mengagalkan pendapatan, keuntungan, atau bahkan membuat sebuah bisnis bangkrut. Tetapi sebaliknya ujian yang dapat dijawab dengan baik oleh pebisnis, maka bisnis tersebut menjadi ladang keuntungan, bisnispun tumbuh dan berkembang.

Semakin mampu menjawab ujian bisnis, maka pebisnis itu menjadi semakin kuat dan matang, sehingga langkah bisnis semakin menantang dan pebisnispun manjadi Super Pebisnis yang patut diperhitungkan oleh kawan maupun lawan bisnis.

Mudah-mudahan hal ini merupakan gejala positif dan pelajaran berarti demi kemajuan kita semua menuju Indonesia jaya dan mandiri.

Ayo, Indonesia Bangkit!

Ditulis dalam Berita Hangat | 20 Komentar »

Handout Manajemen Pemasaran : Bab I Pendahuluan

Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juni 16, 2007

Ditulis dalam Manajemen Pemasaran, Modul Kuliah | 4 Komentar »