Menengok teman lama adalah peristiwa yang membahagiakan. Tanpa disadiri oleh kita, cerita, dan suka duka di masa SMA begitu indah. Jika arah putar jam bisa dikembalikan, maka ingin rasanya kembali di masa itu. Terdengar cerita lucu, ketika teman-teman sekolah kompak mengunci kelas Guru yang datang terlambat dari dalam kelas. Mereka seakan-akan sibuk belajar sampai-sampai bunyi handel pintu tanda seseorang akan masuk tidak didengar oleh mereka. Padahal hati mereka geli bercampur takut menerima hukuman. Cerita selanjutnya, seperti biasa guru adalah penguasa, mereka sekelas dihukum dan guru tersebut tidak mau melanjutkan mengajar di kelas tersebut.
Sekelumit cerita diatas ketika saya mengantarkan isteri ke teman SMA nya di sebuah kota di Jawa Timur. Kabarnya temannya tersebut akan berangkat tugas sebagai diplomat di negara Paman Sam di bulan Juli. Teman tersebut sebut saja Mr X. Sepintas pada kali pertama bertemu di lapangan tenis Unair -Surabaya sekitar tahun 1993-an, nampak kehangatan dan keceriaan sebagai tanda sosok yang memiliki percaya diri penuh. Tidak aneh kalau Ia adalah seorang mantan ketua kelas.
Pada akhir Juni lalu, ketika berkunjung ke rumah teman. Kami mendengar pembicaraan tentang kabar penggusaran salah satu kota di Amerika. Aku kaget bercampur penasaran, sedikit komentar dalam hati, “apa iya Amerika nggak jauh beda dengan Indonesia”.


