Beranda » Religius » Spiritual Bisnis: Pebisnis “Aji Mumpung”dan Penanganan Bencana Semburan Lumpur “Lapindo” Porong Sidoarjo

Spiritual Bisnis: Pebisnis “Aji Mumpung”dan Penanganan Bencana Semburan Lumpur “Lapindo” Porong Sidoarjo

Peristiwa merupakan fakta yang tak terbantahkan. Setiap peristiwa selalu membawa dua pesan yang bertolak belakang satu dengan yang lain. Peristiwa dapat membuat sebagian atau seluruhnya berbahagia, tetapi sebaliknya dapat membuat duka dan kesedihan.

Tidak rela saudaranya menjadi sengsara

Setiap orang walau seakan tidak perduli dengan peristiwa yang tidak terkait secara langsung dengan kepentingan dirinya. Tetapi sedikit banyak terusik untuk mengomentari atas kejadian berbagai peristiwa. Seperti peristiwa musibah lemburan lumpur “lapindo” Porong Sidoarjo. Pada awalnya sebagian masyarakat Jakarta dan kota lainnya mengetahui berita tersebut dari liputan berita media jurnalistik. Pada mulanya biasa saja, tetapi ketika semburan itu terus menerus keluar dan menggenangi area tanah, sawah, ladang, dan rumah warga, maka mereka menjadi terusik dan heboh. Komentar pedaspun terdengar bersautan di pelosok negeri nun jauh dari Porong. Intinya mereka tidak rela saudaranya menjadi sengsara dan mendesak pertanggungjawaban pihak pengelola perusahaan lapindo. Selanjutnya musibah lokal cepat melebar menjadi isu nasional yang membutuhkan uluran tangan penguasa Nasional.

Peristiwa semburan lumpur yang mengakibatkan sebagian besar masyarakat khususnya pemilik tanah sekitar menjadi kehilangan rumah tempat tinggal, lahan produktif, pabrik dan sebagainya. Kesengsaraan warga ternyata juga membawa nikmat sebagian masyarakat lain, yaitu perusahaan katering, perusahaan konsultan, tenaga ahli asing dan lokal dan sebagainya.

Para Ahli Lokal tak mau ketinggalan

Perguruan tinggipun tidak mau ketinggalan, tim ahli ITB sudah berusaha melalui metoda bola beton. “Metoda bola beton ini bertujuan untuk mengurangi debit semburan lumpur, sehingga memperkecil volume semburan lumpur tersebut”.

Kolega ITB, yaitu ITS pun berusaha untuk turut berpartisipasi, mengutip (antara, 17/05/2007) bahwa ……, presiden telah menerima presentasi metode stop lumpur dari tim Jepang yang dipimpin ahli teknik sipil Takashi Okamura dengan metode “counter weight” (cofferdam) di Jakarta (11/5).

“Itu bukti pemerintah kurang percaya terhadap karya anak bangsa. Karena itu, kami mengirim SMS yang berbunyi `Usulan tim Jepang itu sama dengan solusi tim ITS, kenapa tidak menggunakan tim dari bangsa sendiri`,” ucapnya.

SMS itu, tutur pengusaha di Ngoro Industrial Estate Mojokerto itu, langsung dibalas presiden dengan menyatakan “Kalau saudara punya solusi, silahkan ke tim atau ke bupati, jangan ditunggu-tunggu lagi`.”

Oleh karena itu, katanya, respon presiden untuk menggunakan metode karya anak negeri yang mengacu kepada Hukum Bernoulli (sistem keseimbangan tekanan) itu, akan ditindaklanjuti dengan mengadakan pertemuan dengan tim Jepang.

…….. Selain itu, tim Jepang mematok biaya sekitar Rp600 miliar, sedangkan tim ITS hanya menaksir biaya Rp250 miliar. “Biaya itu, menjadi tanggungjawab Lapindo,” kilahnya.

Keprihatinan dan Peluang Bisnis 

Nampaknya ada dua pihak yang berada pada posisi yang berbeda. Dan keduanya memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan manfaat besar dari peristiwa tersebut. Ketika situasi ini dilemparkan kepada saudara, maka mana yang anda pilih menjadi korban atau menjadi bagian yang menikmati bisnis sebagai upaya penanggulangan bencana? Hampir dapat dipastikan kebanyakan lebih memilih menjadi kontraktor proyek, ketimbang menjadi korban bencana?

Bagaimana dengan Anda seorang “Pebisnis”?

Menarik kerena kalau dikaji lebih mendalam, maka pilihan tersebut belum tentu menjadi sebuah nilai yang tinggi . Karena sesungguhnya yang terjadi adalah menjadi korban tidak selalu lebih buruk daripada menjadi kontraktor “aji pumpung”?

Pebisnis “Aji Mumpung” dalam konteks ini adalah tidak profesional dan berbau KKN. Mereka berpotensi untuk melakukan praktik-praktek yang tidak terpuji dan akan mengundang pihak KPK dan kejaksaan di kemudian hari.

Sebagian besar masyarakat mengharapkan bagaimana pemerintah mampu menghentikan bencana dan menghilangkan penderitaan rakyat melalu program-program nyata dan multidimesi bersama-sama swasta serta menuntut pertanggung jawaban perusahaan pengelolaan Lapindo secara maksimal.

Kantor Presiden Pindah ke Surabaya

Berkenaan dengan pertanggungjawab PT Lapindo Brantas yang terkesan lamban dan berbelit-belit, maka Presiden SBY mengambail langkah-langkah nyata dan pucaknya adalah pada saat memindahkan kantor dari Jakarta ke Surabaya. Sebagian masalah dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari. Sebagian masyarakat sekitar bencana sedikit tersenyum karena telah menerima uang ganti rugi.

Dalam konteks Manajemen Pemerintah, walaupun keputusan RI 1 tersebut politis dan mampu memenuhi sebagian tuntutan masyarakat, tetapi kesan yang muncul bahwa manajemen pemerintah tidak efektif adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri.

Dengan berlandaskan nilai-nilai spiritual diharapkan pula kepada Pebisnis dan manajemen pemerintah pusat dan daerah untuk bekerja secara profesional, akuntabel dan etis, sehingga pembangunan kemasyarakatan atas penanganan bencana dapat berjalan efektif dan efisien.

Ayo Indonesia Bangkit!


3 Komentar

  1. darna mengatakan:

    Lumpur Lapindo adalah akibat dari Grup Bakrie (NDB) yang menyakiti seorang anak wali qutub yang sedang menjalani kehidupan seorang pengusaha dimana tagihan kepada mereka tidak dibayar dan di biarkan dengan semena-mena, dimana kejadiannya di wisma bakrie kemang 1 hari sebelum lumpur mulai meledak, dan pada saat itu anak wali qutub tersebut berdoa pasrah kepada Allah dalam tangisan… its true, dialah yang mampu menutup lubang sumur itu.. haqul yakin, please istikhoroh atau tanya sama kiyai hebat

  2. menarik ulasannya
    salam hangat

  3. Tulisan yang mengena dan menarik ulasannya….pokoknya top banget.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tunas Nusantara Jaya

indonesia_flag.gif

Berkibarlah Selalu

Blog Stats

  • 386,935 hits

Yang Sedang Belajar

website counter

Beasiswa Wirausaha, Mau?

Yang Cepet - Dapet!!! Klik Aja

beasiswa1.png

Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d blogger menyukai ini: